You are here: Home

Articles

Panel on Cultural Movement in Aceh (in Bahasa Indonesia)

Panel on Cultural Movement in Aceh (in Bahasa Indonesia)


   
Reza Idria dan Azhari Aiyub

1.  Komunitas Tikar Pandan: Counter Hegemony dari “Lahan Kosong”
Reza Idria dan Azhari Aiyub
Komunitas Tikar Pandan
Abstrak
Konflik bersenjata dan bencana alam yang meluluhlantakkan berbagai aspek kehidupan telah menimbulkan beragam usaha dari komunitas dan persona dalam masyarakat Aceh untuk mengatasi dan bangkit kembali dari keterpurukan mereka. Salah satu kelompok yang lahir dan berusaha keluar dari dua fase terpuruk, konflik dan bencana tsunami, tersebut adalah Komunitas Tikar Pandan. Organisasi yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa lintas universitas di Banda Aceh sejak tahun 2002 ini memilih ranah kultural sebagai ruang kegiatan mereka, satu pilihan yang cukup unik pada masa itu, pun hingga kini, yang mereka sebut sebagai “lahan kosong” yang tidak digarap. Setelah tsunami, organisasi tersebut berkembang dengan cara membelah diri hingga menjelma menjadi beberapa organisasi mandiri yang bernaung di bawah satu payung yang disebut Liga Kebudayaan. “Gerakan kebudayaan” dan counter hegemony yang mereka maknai sebagai ideologi lembaga telah diterjemahkan ke dalam wujud Sekolah Menulis Dokarim, Toko Buku Dokarim, Aneuk Mulieng Publishing, Metamorfosa Institute, Jurnal Kebudayaan Gelombang Baru, TV Eng Ong dan Museum HAM Aceh. Paper ini akan membedah sejarah, aktor, strategi, ideologi dan tantangan satu organisasi kebudayaan di Aceh pasca damai dan rehabilitasi bencana.

Keywords:
revitalisasi, budaya, hegemoni, simbol.

M. Yulfan dan Rizki Alfi Syahril

2. 




Komunitas Tikar Pandan diantara Stigma Kemiskinan Kultural dan Fakta Kemiskinan Struktural
M. Yulfan dan Rizki Alfi Syahril
Komunitas Tikar Pandan
Abstrak
Komunitas Tikar Pandan adalah lembaga swadaya masyarakat yang bermarkas dan berkatifitas di Aceh sejak tahun 2002. Selama satu dekade usia lembaga ini telah memainkan perannya dalam merevitalisasi dan mengorganisir kerja-kerja kebudayaan sejak masa konflik politik hingga rehabilitasi Aceh pasca tsunami. Secara umum, masyarakat Aceh dan publik luar yang menaruh perhatian terhadap kajian budaya kontemporer Aceh mengenal Komunitas Tikar Pandan sebagai organisasi yang fokus pada kerja-kerja kesenian dan pendidikan alternatif, sedikit sekali yang meneliti peran lembaga tersebut dalam menengahi isu kemiskinan di Aceh. Komunitas Tikar Pandan dalam kertas posisinya menyatakan bahwa salah satu dampak perang dan inflasi akibat politik bantuan post-tsunami Aceh adalah mencuatnya angka kemiskinan, terutama pada kawasan-kawasan sentra pertanian dan perkebunan di pedalaman tengah Aceh. Paper ini akan membentang peran Komunitas Tikar Pandan, cara pandang dan stratergi lembaga tersebut dalam isu poverty. Stigma bahwa rakyat malas dan bodoh sebagai penyebab utama kemiskinan kultural masyarakat Aceh diuji dan ditantang dengan fakta kemiskinan struktural yang didapat dari hasil kerja pengorganisiran dan pendidikan kritis yang dikerjakan Komunitas Tikar Pandan di kawasan Bener Meriah dan Aceh Besar.

Jesse Hession Grayman

3. 




“Maka Kami Membangun Cerita Sendiri”:  Sosok Abad Ke-19 dan Mitos Abad Ke-21 Dari Seorang Penyair Aceh, Dôkarim
Jesse Hession Grayman
Harvard University
Abstrak
Tidak ada sumber utama selain Snouck Hurgronje yang memberitahu kita tentang Abdul Karim, seorang penyair keliling yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Dôkarim, yang menyusun Hikayat Prang Gompeuni tentang perang Aceh melawan penjajahan Belanda. Tersusun secara lisan dalam sajak Aceh, hikayat tersebut meminjam tema dan narasi langsung dari hikayat terkenal yang mendahuluinya sementara ia juga menceritakan rincian spesifik tentang keberanian prajurit, negosiasi politik, dan kehancuran masyarakat di tengah-tengah suasana perang. Hikayat Prang Gompeuni bukan saja menjadi karya yang terus bertambah ayat seiring dengan perkembangan perang yang masih berlangsung, tapi pertunjukkannya oleh Dôkarim selalu disesuaikan juga untuk memenuhi harapan dari setiap patron yang memesan pergelaran darinya.  Di antara pelanggan Dôkarim itu adalah Hurgronje sendiri yang memesan satu-satunya transkripsi lengkap dari Hikayat Prang Gompeuni dan Sang Pahlawan Perang Aceh terkenal Teuku Umar, yang akhirnya menghukum mati Dôkarim sebelum perang selesai karena Dôkarim disangka membelot kepada Belanda.  Tapi kita harus menafsirkan transkripsi Hurgronje dan tuduhan Teuku Umar sebagai narasi yang parsial saja.  Dalam peresentasi ini, saya akan menunjukkan bagaimana sosok ambigu Dôkarim di Aceh pada abad ke-19 berfungsi sebagai sebuah metafora produktif dan kisah peringatan bagi produsen budaya Aceh pada abad ke-21.  Komunitas Tikar Pandan khususnya telah memanfaatkan sosok Dôkarim dan membangkitkan warisan parsial tersebut menjadi sebuah mitos baru.  Para anggota LSM tersebut mengklaim kebebasan penyair yang ditinggalkan oleh Dôkarim untuk membangun cerita sendirinya yang mendukung suatu kewaspadaan kritis terhadap semua tokoh otoritas.  Saya menggunakan teori tentang struktur sosial rhizomatic yang digarap oleh Deleuze dan Guattari untuk menggambarkan sikap Tikar Pandan yang kritis dan senantiasa berkelit.


You are here: Home