You are here: Home Abstrak Isu Separatisme di Aceh Paska MoU Helsinki

Isu Separatisme di Aceh Paska MoU Helsinki

Isu Separatisme di Aceh Paska MoU Helsinki


Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad


Abstrak

Makalah ini bertujuan untuk memamahami apakah masih ada isu separatisme di Aceh, paska penandatangan MoU Helsinki, 15 Agustus 2005. Harus diakui, bahwa di kalangan GAM tersendiri telah terpecah ke dalam beberapa kelompok dan juga partai politik. Perpecahan ini tentu saja menyiratkan satu persoalan mengenai keinginan beberapa kalangan orang Aceh untuk tetap ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Potret konflik di kalangan GAM ternyata menyisakan satu persoalan baru yaitu kebangkitan kelompok neo-GAM yang memandang bahwa perdamaian ini bukanlah target mereka, sejak gerakan ini didirikan pada 1976. Adapun data yang disajikan dari kajian ini berasal dari hasil investigasi selama beberapa tahun terakhir, baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam hal ini, wawancara dan observasi telah dilakukan dengan beberapa kelompok mantan kombatan dan juga eksponen GAM yang pernah berdiam di luar negeri. Disamping itu, metode etnografi telah dilakukan di beberapa kawasan di Aceh, uintuk melihat persepsi rakyat Aceh.  Adapun argumen yang hendak dibangun adalah orang Aceh harus mampu “menyeimbangkan” kepentingan internasional dan nasional di dalam melakukan manajemen konflik di Aceh. Isu separatisme telah dijadikan sebagai bahan komoditi baru di Asia Tenggara. Selain itu, pandangan lain yang hendak dituangkan adalah bahwa polarisasi gerakan sosial politik di Aceh memang tidak pernah jauh dari teori-teori Ilmu Sosial. Kedua hal inilah yang hendak dibuktikan di dalam makalah ini.

 



You are here: Home Abstrak Isu Separatisme di Aceh Paska MoU Helsinki